Cast :
OC’s Shim Seungmi | SF9’s (Kim Inseong, Baek Zuho, Lee Dawon) | Slight OC’s & SF9’s MemberGenre:Romance | School Life | Hurt | Family
Author's Note:Budayakan Vote sebelum baca, tinggalkan jejak dengan Komentar; respon, saran, maupun kritik. Author cuman minjem nama Cast, untuk cerita murni dari imajinasi Author. Bila ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulan. Jangan mengkopi sebagian atau kesuluruhan cerita. Intinya; Don’t Copy Story!
Happy Reading!
Inseong terdiam, ia baru sadar saat udara semakin mendingin dan hari semakin gelap. Ia menengadahkan kepalanya dan melihat sang bulan sudah menggantikan tugas sang matahari. Inseong menatap Ny. Shim yang masih sibuk melayani pelanggan yang datang ke kedai kecilnya itu dengan senyuman tipis. “Tujuanku terbelokkan.” Gumam Inseong masih setia duduk dan memperhatikan. “Kurasa aku akan menemui Seungmi besok pagi saja” Lanjutnya sembari berdiri dan membenarkan syal juga jaket yang ia pakai. Menghampiri Ny. Shim dengan senyuman.
“Maaf, Bu. Aku akan pulang.” Ujarnya lembut dan mengenggam kedua tangan Ny. Shim, memberikan dua kantung Hot Pack yang mungkin bisa sedikit menghangatkan. “Kenapa? Aku tidak perlu hal seperti ini. Ambil lagi. Tak baik anak muda sepertimu kedinginan hanya karena wanita tua sepertiku.” Ny. Shim sedikit mendorong tangan Inseong dan mencoba melepaskannya tanpa mengambil Hot Pack yang Inseong berikan.
“Tidak. Aku melakukannya karena aku punya lebih. Simpanlah oleh ibu. Aku akan pulang.” Inseong melepaskan tangannya dan berhasil memberikan Hot Pack pada Ny. Shim.
“Sampai jumpa! Aku akan sering berkunjung!” Inseong melambaikan tangannya dan berbalik saat ia menaiki motornya dan sedikit berteriak berharap masih bisa tredengar oleh Ny. Shim. Inseong tersenyum lebar, ia mengenakan helm dan melaju dengan motornya.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Baru pulang?” Tanya Chani yang asik menonton tv dengan penuh camilan di meja, tangan bahkan mulutnya. Ah, jangan lupakan beberapa botol jus jeruk yang sudah kosong. Inseong melirik agak jijik ke arah Chani. “Kau. Ough. Menjijikan. Bereskan bocah!” Tegas Inseong dan berlalu menuju kamar Youngbin.
Chani mencibir. “Bereskan Bocah!. Blah blah blah. Memangnya ini rumah siapa? Beruntung aku tidak mengusirnya” Chani kembali fokus pada tv dan camilannya tanpa memerdulikan teguran dari kakak sepupunya itu. “Aku ‘kan juga mau menikmati hidup layaknya orang kaya” Gumam Chani di detik berikutnya dengan raut wajah lusuh.
“Chani kenapa?” Tanya Youngbin yang mendengar suara Inseong yang cukup tinggi. Inseong baru saja masuk dan menaruh tasnya, ia mengganti baju lalu melirik malas pada Youngbin yang sibuk memainkan Laptopnya ditemani beberapa camilan di kasur. Bayangkan saja. Hal itu membuat Inseong mengerutkan kedua alisnya kesal.
“Kakak dan adik sama saja. Kalian itu jorok! Ouh. Seharusnya aku pergi ke rumah Rowoon” Sesal Inseong. Memang penyesalan datang selalu terlambat. Mungkin akan lebih baik jika Inseong menginap di rumah Rowoon; salah satu adik sepupunya, dia tipe orang yang bersih tidak seperti Youngbin dan Chani.
Youngbin mendelik. Ia melemparkan beberapa cheese ball ke arah Inseong. “Sana pergi! Jika kau mau, aku akan menghubungi Rowoon sekarang.” Ujar Youngbin cepat dan meraih smartphonennya. “Yak! Jangan! Kau gila? Yang ada nanti malah pria tua itu yang menjemputku!” Bentak Inseong tak santai. Tentu, meskipun Rowoon salah satu adik sepupu yang baik tapi dia terlalu baik bahkan penurut. Dia selalu mengadukan apa saja yang ia anggap salah pada orang yang ia pikir bisa menyelesaikannya. Menyebalkan.
Youngbin tersenyum singkat. Ia menang. “Kalau begitu jangan mengomentari hidup kami, tuan. Disini, kamilah rajanya.” Ujar Youngbin penuh dengan nada kemenangan. “Baiklah. Terserah apa katamu” Pasrah Inseong.
“Inseong?” Tanya Seungmi tak percaya dengan siapa yang ia lihat di depan rumahnya. Inseong tersenyum singkat dan melambaikan tangannya. “Hai! Kau mau berangkat sekolah?” Tanya Inseong saat ia melihat setelan yang Seungmi pakai. Seungmi ikut memperhatikan pakaiannya kemudian mengangguk pelan.
“Dengan wajah seperti itu?” Tanya Inseong kurang yakin. “Kenapa?” Respon Seungmi sembari meraba wajahnya, ia rasa tak ada yang salah dengan itu. “Kau pucat. Kau yakin sudah sembuh? Lebih baik istirahatlah lebih lama” Ucap Inseong seketika membuat Seungmi membatu, telinga dan wajahnya memerah.
“Lihat. Kau masih sakit” Khawatir Inseong saat melihat wajah dan telinga Seungmi memerah tanpa tahu alasannya. “I-ini. karena udara dingin” Elak Seungmi sembari membenarkan syal dan kupluk yang ia gunakan. “Sungguh?” Tanya Inseong sedikit tak percaya. “Sungguh”.
“Paling tidak pakailah lip balm, agar bibirmu tidak terlalu pucat” Saran Inseong membuat Seungmi seketika memegangg bibirnya kaku. “Te-tentu.” Setujunya dan mengeluarkan sebuah lip balm lalu mengoleskannya pada bibir tanpa mengunakan cermin. Membuat Inseong sedikit terkikik. Inseong menarik tangan Seungmi. Menatap singkat bibir Seungmi kemudian mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. “Gunakan ini. kau malah terlihat berantakan” Ucap Inseong kemudian menyuruh Seungmi menatap kaca spion. Seungmi kembali membatu.
Tangan Inseong menyentuh bibirku. Mimpi apa aku semalam? Oh, ya tuhan. Aku tidak bisa bergerak. Kira-kira seperti itulah pikiran Seungmi saat mematung dan menatap Inseong. “Cepatlah. Dingin” Suruh Inseong sembari merapatkan jaket yang ia kenakan. “I-iya”
“Aku melihat Inseong oppa bersama seorang perempuan! Ahk! Tidakkk! Hatiku” Jerit salah satu siswi di kantin, ia sedang berkumpul bersama beberapa temannya.
“Sungguh? Mungkin kau salah lihat! Jangan membuatku jantungan!” Rsepon yang lain sedikit berlebihan, ia bahkan memukul-mukul dadanya seolah ia sedang sakit sesak. Entahlah apa yang gadis itu pikirkan. Siswi SMA zaman sekarang memang menakutkan.
“Tidak! Tidak! Aku juga melihatnya! Sungguh! Oh tidak!” Balas yang lain sembari mengacak rambutnya tak terima. Oke, mereka mungkin salah satu pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa.
“Oh tidak!” Jerit yang lainnya.
“Sungguh. Aku juga melihatnya. Mereka berangkat bersama!” Tambah yang lainnya, membuat mereka yakin.
“Haruskah kita...” Ungkap siswi pertama yang berbicara namun terhenti. Karena mereka dihampiri seorang “Kim Inseong?”.
“Yap. Ini aku. Dan yang kalian lihat tadi pagi juga aku.”Ucap Inseong santai. Ia ikut duduk bersama lima siswi itu. “Wah, Heol! Daebak! Putera mahkota duduk bersama kita! Kyaaak!” Jerit mereka berlima membuat seisi kantin melirik sinis ke arah mereka dan Inseong merasa kesal karenanya.
“Diam” Desis Inseong tak suka. Ia menatap mereka berlima secara bergantian. “Jangan berpikir untuk membully seseorang atas namaku. Aku tak mau namaku dijadikan alasan pembullyan.” Tegas Inseong kemudian berlalu setelah ia mengambil beberapa roti dan kotak susu. Meninggalkan kelima siswi yang terpaku dengan mulut menganga.
“Apa itu sungguh Kim Inseong? Pangeran sekolah kita? Sungguh?”
“Wah, sangat tampan. Sungguh”
“Kita tak bermimpikan? Dia bicara. Dia bukan patung indah yang berjalan! Dia berbicara pada kita!”
“Kyaa! Aku sungguh bahagia!”
“Sungguh! Ini luar biasa!”
Oke, lupakan lima gadis yang mulai menggila itu.
Sekotak susu cokelat dan roti melon kini berada di meja Seungmi. Gadis itu menatap keduanya dengan bingung lalu menatap Inseong yang berdiri di hadapannya. “Kenapa?” Tanya seungmi pada Inseong sembari menunjuk dua barang yang memanggil Seungmi untuk segera ia makan.
Seungmi lapar, hanya saja ia tak mau selalu menerima apa saja yang Inseong berikan padanya. Ini sudah kali keberapa Inseong memberikan beberapa makanan dan minuman. Itu sedikit membuat Seungmi tidak nyaman, ditambah tatapan anak kelas yang tidak suka seorang gadis biasa seperti Seungmi diperhatikan oleh Inseong si pangeran sekolah.
“Karena aku menyukaimu.” Ungkap Inseong membuat seisi kelas tercengang. Dan menatap Seungmi dengan tatapan membunuh. Oke, bulu kuduk Seungmi bahkan berdiri.
“Karena kau temanku.” Tambah Inseong kemudian membuat seisi kelas menghela napas lega, entah itu pria ataupun wanita. Karena mereka punya alasan tersendiri dan tak mau Inseong dimiliki oleh gadis semacam Seungmi, entah itu mereka yang menyukai Inseong ataupun adik perempuan mereka yang menyukai pangeran sekolah itu.
Sementara Seungmi menunduk, ia merasa lega sekaligus kecewa. Teman. Ya, ia dan Inseong hanyalah teman sekelas, tidak lebih. “Terima kasih. Inseong-ah” Lirih Seungmi dan meminun susu kotak yang Inseong berikan.
“Cepat sembuh. Teman” Ucap Inseong entah kenapa terdengar keraguan dalam kalimat itu, membuat Seungmi kembali melihat ke arah Inseong. “Tentu”
Inseong kembali menuju kursinya.
“Seungmi?” Panggil Taeyang cukup keras, membuat Seungmi tersedak dengan roti yang ia makan. “Aah, kenapa?” Kesal Seungmi.
“Kemarin ada Tugas. Park Saem akan menunggu sampai besok. Acuannya dari buku paket.” Ujar Taeyang sembari menyerahkan beberapa lembar kertas pada Seungmi dan berlalu, menuju ke tempat Inseong.
“Kenapa Inseong tidak memberti tahuku?” Gumam Seungmi bingung sampai ia melihat Taeyang menjelaskan hal yang sama pada Inseong. “Dia juga tidak berangkat sekolah?” Tanya Seungmi pada dirinya sendiri.
“Dia sekolah kok”
“Ya Tuhan!” Seungmi hampir jatuh dari kursinya saat kepala Hana tiba-tiba muncul dan mengagetkannya. Seungmi mengusap dadanya pelan, bisa-bisa ia jantungan karena temannya yang hobi mengagetkan satu ini.
Setelah berhasil menenangkan diri Seungmi menatap Hana penasaran. “Lalu kenapa dia tidak mengerjakan tugas?” Tanya Seungmi menuntut penjelasan, tidak mungkin kan seorang Kim Inseong membolos. “Dia bolos.” Oh, ternyata perkiraan Seungmi salah.
“Kenapa?” Tanya Seungmi memastikan. “Kupikir dia menjengukmu. Apa dia tidak datang ke rumahmu?” Ucap Hana sedikit kebingungan, karena ia sangat yakin roman-romannya Inseong waktu itu akan menjenguk Seungmi tapi apa?.
“Zuho. Yang kemarin datang itu Zuho. Bukan Inseong, dia datang tadi pagi” Balas Seungmi membuat Hana sedikit kebingungan. “Sungguh?” Tanya Hana memastikan lagi. “Iya. Untuk apa aku berbohong” Jawab Seungmi malas.
“Kalian berbaikan. Kau menerimanya lagi?” Tanya Hana membuat mata Seungmi membulat tak percaya. “Tentu saja tidak! Jangan bicara senbarangan” Elak Seungmi cepat sedikit membuat Hana terperanjat kaget. “Sungguh? Lalu untuk apa dia ke rumahmu?” Tanya Hana antusias.
“Meminta maaf” Jawab Seungmi.
“Sungguh? Berandal sepertinya? Wah, kau luar biasa Shim Seungmi.” Ujar Hana dengan nada kagum. Seungmi melirik malas. “Jangan berlebihan. Kau seperti bocah yang dapat balon gratis” Cibir Seungmi dan memilih fokus pada kertas yang diberikan oleh Taeyang.
“Cih, kau sendiri seperti itu. Saat Inseong memberikan sesuatu padamu” Ejek Hana membuat Seungmi terdiam beberapa detik dan menyanggahnya mentah-mentah. “Tidak! Aku tidak seperti itu!” Elak Seungmi dan mendorong Hana untuk segera menjauh darinya.
Tapi Hana? Dia malah tersenyum, karena ia melihat rona merah di kedua pipi gembil milik Seungmi.
“Sungguh?”
Haiii Hooo!!!
Teman-teman, sedikit pemberitahuan; Cerita ini telah diupload oleh saya di Wattpad pribadi (bisa cek di tautan tersedia), alasan mengunggah ulang di blog ini adalah untuk semacam dokumentasi (?) entahlah, intinya seperti itu.
Ke depannya saya akan mengupload di dua tempat (Wattpad dan Blogspot) silakan kunjungi Wattpad untuk menemukan lebih banyak cerita.
Terima Kasih.
Jangan lupa Like dan Komen!
Untuk Berinteraksi dengan saya, silakan kunjungi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mau berinteraksi tapi malu? Coba aja dulu!