Cast :
OC’s Shim Seungmi | SF9’s (Kim Inseong, Baek Zuho, Lee Dawon) | Slight OC’s & SF9’s MemberGenre:Romance | School Life | Hurt | Family
Author's Note:Budayakan Vote sebelum baca, tinggalkan jejak dengan Komentar; respon, saran, maupun kritik. Author cuman minjem nama Cast, untuk cerita murni dari imajinasi Author. Bila ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulan. Jangan mengkopi sebagian atau kesuluruhan cerita. Intinya; Don’t Copy Story!
Happy Reading!
“Seungmi-ya,” panggil Inseong tepat di wajah Seungmi, membuat si gadis sedikit kaget sekaligus kesal. Kenapa pria satu ini bertingkah aneh?. “Ah, maaf,” gumam Inseong selanjutnya, sadar karena ekspresi Seungmi samasekali tidak cerah.
“Kenapa?” tanya Seungmi malas, bukannya Seungmi tidak menyukai Inseong yang mendekatinya. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini Seungmi terpikirkan hal yang sempat ia lupakan, membuatnya harus menjaga jarak dengan putera mahkota satu ini.
Inseong terdiam, sedikit ragu memulai percakapan. Seungmi muram, seolah tak mau bicara dengannya, membuat Inseong semakin ragu dan menggelengkan pelan kepalanya, “Tidak, kurasa sekarang bukan waktu yang tepat,” ringis Inseong sedikit kecewa.
“Memangnya apa?” tanya Seungmi agak penasaran.
Inseong menggeleng cepat, “Bukan apa-apa.”
“Kau menjauhi Inseong? Kenapa?” Hana sedikit membentak Seungmi. Entah kenapa sebagai sahabat, Hana berpikir Seungmi itu terlalu polos atau bahkan bodoh. Kenapa ia menghindari pria yang jelas-jelas menyukainya?
“Aku tidak menjauhinya,” gumam Seungmi lemah, “Aku hanya mencoba untuk menyadarkan diri,” lanjutnya dengan nada putus asa.
“Maksudmu?” Hana merasa aneh dengan tingkah Seungmi yang belakangan selalu terlihat aneh. Hana menepuk pelan puncak kepala Seungmi. “Tenanglah, aku tahu hidupmu berat. Tapi, kurasa kau juga pantas mendapat kebahagiaan.” hibur Hana dan perlahan merangkul Seungmi.
Seungmi tersenyum singkat dan membalas pelukan Hana. “Terima kasih,” ujar Seungmi, tapi detik berikutnya ia kembali menghela napas dalam. “Tapi, kau tidak tahu. Yang aku alami, kurasa sangat rumit.” gumam Seungmi menenggelamkan kepalanya di pundak Hana.
“Nak Inseong?” tanya Ny. Shim memastikan pria yang menghampirinya benar-benar Inseong.
“Iya, Bu. Bagaimana kabar Ibu? Maaf aku baru sempat berkunjung lagi,” sesal Inseong pada Ny. Shim. Padahal Inseong sempat berjanji akan sering mampir ke kedai kecil ini, tapi nyatanya ia baru bisa datang lagi setelah hampir satu minggu.
“Tidak apa, Nak.” balas Ny. Shim sembari menyajikan sup hangat dalap cup dan satu porsi teokkpeokki. “Makanlah, cuacanya dingin,” ucap Ny. Shim menepuk pelan pundak Inseong.
Inseong tersenyum, ia menangguk pelan dan menyeruput sup hangatnya. “Terima kasih, Bu,” binar Inseong senang. Ny. Shim begitu hangat padanya membuat Inseong mengenang beberapa kenangan bersama sang Ibu. “Oh ya, Bu. Boleh aku bertanya?” ujar Inseong dan menyimpan sup hangat yang sedang ia nikmati.
“Tentu, tanyakanlah. Tak perlu sungkan,” jawab Ny. Shim ramah. Ia melirik sekilas teokkpeokki yang masih utuh dan kembali menyodorkanya pada Inseong. “Kenapa tidak dimakan? Tidak suka pedas?” ragu Ny. Shim. Pasalnya terakhir Inseong datang kemari, ia hanya sempat meminum sup hangat, bahkan itupun tak habis.
“Oh, Terimakasih,” gumam Inseong dan memakan sesuap penuh teokkpeokki itu dengan nikmat. “Tadinya aku ingin berbincang dulu dengan Ibu sebelum makan. Bukankah tidak sopan jika aku bicara dengan mulut penuh?” jelas Inseong setelah menelan bersih teokkpeoki yang ada di mulutnya.
Ny. Shim tertawa, “Kau memang anak yang sopan,” seru Ny. Shim bahagia, ia bahkan mengelus kepala Inseong saking senangya. Jarang menemui anak muda seumuran Inseong yang sesopan ini. Tentu saja Ny. Shim merasa bangga, entah apa alasanya.
Inseong ikut tersenyum. “Sudah jadi kebiasaan, Bu.” ungkap Inseong. Memang benar adanya begitu, bahkan Inseong tak suka saat orang lain berbicara dengan mulut penuh, contohnya kakak beradik yang jadi tuan rumahnya; Youngbin-Chani.
“Kenapa?” tanya Seungmi malas pada sang Ibu. Padahal ini sudah malam, kenapa sang ibu memintanya untuk berbincang? Padahal Seungmi ingin segera memeluk bantal guling kesayangannya. “Tunggu. Eomma, apa kau selingkuh?” pekik Seungmi tiba-tiba membuat Ny. Shim menepuk cukup keras pundak Seungmi.
“Kurang ajar, kau ini jangan bicara sembarangan.” bentak Ny. Shim, meski pada akhirnya ia kembali memasang senyum cerah. “Kau, berteman dengan anak bernama Inseong? Kim Inseong?” tanya Ny. Shim penuh binar, Seungmi bahkan menatap sang ibu heran.
“Ya, kami cukup dekat. Kenapa?”
“Tidak pacaran?”
“Hey! Eomma! Kenapa berbicara seperti itu? Kami hanya teman!” elak Seungmi keras, meski wajah memerahnya tidak bisa disembunyikan.
“Eomma hanya bertanya. Padahal dia anak yang baik. Dia sering berkunjung ke kedai kita,” sesal Ny. Shim dan itu membuat Seungmi sedikit berdehem kecil.
“Tapi kenapa aku jarang bertemu?,” tanya Seungmi, padahal Seungmi juga sering berjaga di kedai. Tapi apa? Ia belum bertemu dengan Inseong di kedai setelah kejadian waktu itu. “Ahem, apa Eomma menyukainya?” ragu Seungmi, nada malu terselip di sana. Entah kenapa situasinya seperti Seungmi yang meminta izin dan pendapat sang ibu tentang pacar barunya. Oh! Apa yang Seungmi pikirkan. “Ehem,” deheman keras mengakhiri tingkah Seungmi yang aneh dan mengundang tawa dari sang ibu.
“Ibu rasa, ya. Dia anak yang baik. Apa kau yakin tidak pacaran dengannya?”
“Mungkin Eomma akan kecewa jika tahu keluarga Inseong,” gumam Seungmi sedikit takut, masalahnya ia yakin sang Ibu akan sepenuhnya membenci Inseong jika tahu dari keluarga mana Inseong berasal.
“Kenapa harus memikirkan keluarga? Toh yang akan hidup bersamamu dia, bukan keluarganya.” ungkap Ny. Shim tak acuh mengundang tatapan tak percaya dari Seungmi, kenapa sang Ibu bisa berbicara seperti itu?. “Hahaha. Bukan begitu?” tawa kaku Ny. Shim memenuhi ruangan.
“Eomma, kenapa berbicara seperti itu? Bukan berarti aku akan menikahinya kan?” decih Seungmi.
“Kau kenapa?” tanya Hana bingung melihat Seungmi yang semakin hari semakin murung saja.
“Hana-ya, aku tahu. Tapi aku yakin Eomma, dia pasti akan pingsan jika mengetahui yang sebenarnya.” desah Seungmi, ia sendiri sebenarnya bingung. Kenapa pula dia harus memikirkan sejauh ini? “Hana-ya, apa aku menyukai Inseong?” tanya seungmi tiba-tiba membuat Hana berkedip cepat dan menelan kering.
“Hey? Inseong? Kenapa bertanya padaku?” bentak Hana tidak sabar, apa yang salah dengan Seungmi? Padahal dia bukan seorang pemula di dunia percintaan, kan?
“Aku hanya bertanya, kenapa membentakku?” gerutu Seungmi kesal.
“Kau sendiri, kenapa bertanya bagaimana perasaanmu pada orang lain? Aku bukan seorang cenayang yang tahu dia jodohmu atau bukan,” jawab Hana acuh tak acuh, detik berikutnya Hana menghela napas dalam begitu juga Seungmi mereka terdiam sampai Hana memekik kencang saat melihat jam dinding. “Heol! Kita harus mengerjakan tugas! Ini sudah malam!” Hana langsung menyerbu buku-buku yang berserakan di hadapan mereka.
“Ah, maaf. Tugas kita. Gara-gara aku.” sesal Seungmi.
“Tenanglah. Aku yang memancingmu untuk bercerita. Hehe” tertawa ringan, Hana menepuk pundak Seungmi cukup keras.
“Kenapa di sini?” tanya Inseong datar pada Tn. Kim yang tengah duduk di ruang tamu, di depan Tn. Kim ada Chani dan Youngbin yang terduduk diam.
Tn. Kim tersenyum singkat. “Karena kita keluarga.”
Haiii Hooo!!!
Teman-teman, sedikit pemberitahuan; Cerita ini telah diupload oleh saya di Wattpad pribadi (bisa cek di tautan tersedia), alasan mengunggah ulang di blog ini adalah untuk semacam dokumentasi (?) entahlah, intinya seperti itu.
Ke depannya saya akan mengupload di dua tempat (Wattpad dan Blogspot) silakan kunjungi Wattpad untuk menemukan lebih banyak cerita.
Terima Kasih.
Jangan lupa Like dan Komen!
Untuk Berinteraksi dengan saya, silakan kunjungi: