Rabu, 08 Juli 2020

Fanfiction [SF9] ー Around Farewell ¬ Chap. 10

Cast :
OC’s Shim Seungmi | SF9’s (Kim InseongBaek Zuho, Lee Dawon) | Slight OC’s & SF9’s Member

Genre:Romance | School Life | Hurt | Family

Author's Note:Budayakan Vote sebelum bacatinggalkan jejak dengan Komentarrespon, saran, maupun kritik. Author cuman minjem nama Cast, untuk cerita murni dari imajinasi Author. Bila ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulanJangan mengkopi sebagian atau kesuluruhan ceritaIntinya; Don’t Copy Story!

Happy Reading!


“Seungmi-ya,” panggil Inseong tepat di wajah Seungmi, membuat si gadis sedikit kaget sekaligus kesal. Kenapa pria satu ini bertingkah aneh?. “Ah, maaf,” gumam Inseong selanjutnya, sadar karena ekspresi Seungmi samasekali tidak cerah.
“Kenapa?” tanya Seungmi malas, bukannya Seungmi tidak menyukai Inseong yang mendekatinya. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini Seungmi terpikirkan hal yang sempat ia lupakan, membuatnya harus menjaga jarak dengan putera mahkota satu ini.
Inseong terdiam, sedikit ragu memulai percakapan. Seungmi muram, seolah tak mau bicara dengannya, membuat Inseong semakin ragu dan menggelengkan pelan kepalanya, “Tidak, kurasa sekarang bukan waktu yang tepat,” ringis Inseong sedikit kecewa.
“Memangnya apa?” tanya Seungmi agak penasaran.
Inseong menggeleng cepat, “Bukan apa-apa.”


“Kau menjauhi Inseong? Kenapa?” Hana sedikit membentak Seungmi. Entah kenapa sebagai sahabat, Hana berpikir Seungmi itu terlalu polos atau bahkan bodoh. Kenapa ia menghindari pria yang jelas-jelas menyukainya?


“Aku tidak menjauhinya,” gumam Seungmi lemah, “Aku hanya mencoba untuk menyadarkan diri,” lanjutnya dengan nada putus asa.
“Maksudmu?” Hana merasa aneh dengan tingkah Seungmi yang belakangan selalu terlihat aneh. Hana menepuk pelan puncak kepala Seungmi. “Tenanglah, aku tahu hidupmu berat. Tapi, kurasa kau juga pantas mendapat kebahagiaan.” hibur Hana dan perlahan merangkul Seungmi.
Seungmi tersenyum singkat dan membalas pelukan Hana. “Terima kasih,” ujar Seungmi, tapi detik berikutnya ia kembali menghela napas dalam. “Tapi, kau tidak tahu. Yang aku alami, kurasa sangat rumit.” gumam Seungmi menenggelamkan kepalanya di pundak Hana.
“Nak Inseong?” tanya Ny. Shim memastikan pria yang menghampirinya benar-benar Inseong.
“Iya, Bu. Bagaimana kabar Ibu? Maaf aku baru sempat berkunjung lagi,” sesal Inseong pada Ny. Shim. Padahal Inseong sempat berjanji akan sering mampir ke kedai kecil ini, tapi nyatanya ia baru bisa datang lagi setelah hampir satu minggu.
“Tidak apa, Nak.” balas Ny. Shim sembari menyajikan sup hangat dalap cup dan satu porsi teokkpeokki. “Makanlah, cuacanya dingin,” ucap Ny. Shim menepuk pelan pundak Inseong.
Inseong tersenyum, ia menangguk pelan dan menyeruput sup hangatnya. “Terima kasih, Bu,” binar Inseong senang. Ny. Shim begitu hangat padanya membuat Inseong mengenang beberapa kenangan bersama sang Ibu. “Oh ya, Bu. Boleh aku bertanya?” ujar Inseong dan menyimpan sup hangat yang sedang ia nikmati.
“Tentu, tanyakanlah. Tak perlu sungkan,” jawab Ny. Shim ramah. Ia melirik sekilas teokkpeokki yang masih utuh dan kembali menyodorkanya pada Inseong. “Kenapa tidak dimakan? Tidak suka pedas?” ragu Ny. Shim. Pasalnya terakhir Inseong datang kemari, ia hanya sempat meminum sup hangat, bahkan itupun tak habis.
“Oh, Terimakasih,” gumam Inseong dan memakan sesuap penuh teokkpeokki itu dengan nikmat. “Tadinya aku ingin berbincang dulu dengan Ibu sebelum makan. Bukankah tidak sopan jika aku bicara dengan mulut penuh?” jelas Inseong setelah menelan bersih teokkpeoki yang ada di mulutnya.
Ny. Shim tertawa, “Kau memang anak yang sopan,” seru Ny. Shim bahagia, ia bahkan mengelus kepala Inseong saking senangya. Jarang menemui anak muda seumuran Inseong yang sesopan ini. Tentu saja Ny. Shim merasa bangga, entah apa alasanya.
Inseong ikut tersenyum. “Sudah jadi kebiasaan, Bu.” ungkap Inseong. Memang benar adanya begitu, bahkan Inseong tak suka saat orang lain berbicara dengan mulut penuh, contohnya kakak beradik yang jadi tuan rumahnya; Youngbin-Chani.
“Kenapa?” tanya Seungmi malas pada sang Ibu. Padahal ini sudah malam, kenapa sang ibu memintanya untuk berbincang? Padahal Seungmi ingin segera memeluk bantal guling kesayangannya. “Tunggu. Eomma, apa kau selingkuh?” pekik Seungmi tiba-tiba membuat Ny. Shim menepuk cukup keras pundak Seungmi.
“Kurang ajar, kau ini jangan bicara sembarangan.” bentak Ny. Shim, meski pada akhirnya ia kembali memasang senyum cerah. “Kau, berteman dengan anak bernama Inseong? Kim Inseong?” tanya Ny. Shim penuh binar, Seungmi bahkan menatap sang ibu heran.
“Ya, kami cukup dekat. Kenapa?”
“Tidak pacaran?”
“Hey! Eomma! Kenapa berbicara seperti itu? Kami hanya teman!” elak Seungmi keras, meski wajah memerahnya tidak bisa disembunyikan.
“Eomma hanya bertanya. Padahal dia anak yang baik. Dia sering berkunjung ke kedai kita,” sesal Ny. Shim dan itu membuat Seungmi sedikit berdehem kecil.
“Tapi kenapa aku jarang bertemu?,” tanya Seungmi, padahal Seungmi juga sering berjaga di kedai. Tapi apa? Ia belum bertemu dengan Inseong di kedai setelah kejadian waktu itu. “Ahem, apa Eomma menyukainya?” ragu Seungmi, nada malu terselip di sana. Entah kenapa situasinya seperti Seungmi yang meminta izin dan pendapat sang ibu tentang pacar barunya. Oh! Apa yang Seungmi pikirkan. “Ehem,” deheman keras mengakhiri tingkah Seungmi yang aneh dan mengundang tawa dari sang ibu.
“Ibu rasa, ya. Dia anak yang baik. Apa kau yakin tidak pacaran dengannya?”
“Mungkin Eomma akan kecewa jika tahu keluarga Inseong,” gumam Seungmi sedikit takut, masalahnya ia yakin sang Ibu akan sepenuhnya membenci Inseong jika tahu dari keluarga mana Inseong berasal.
“Kenapa harus memikirkan keluarga? Toh yang akan hidup bersamamu dia, bukan keluarganya.” ungkap Ny. Shim tak acuh mengundang tatapan tak percaya dari Seungmi, kenapa sang Ibu bisa berbicara seperti itu?. “Hahaha. Bukan begitu?” tawa kaku Ny. Shim memenuhi ruangan.
“Eomma, kenapa berbicara seperti itu? Bukan berarti aku akan menikahinya kan?” decih Seungmi.
“Kau kenapa?” tanya Hana bingung melihat Seungmi yang semakin hari semakin murung saja.
“Hana-ya, aku tahu. Tapi aku yakin Eomma, dia pasti akan pingsan jika mengetahui yang sebenarnya.” desah Seungmi, ia sendiri sebenarnya bingung. Kenapa pula dia harus memikirkan sejauh ini? “Hana-ya, apa aku menyukai Inseong?” tanya seungmi tiba-tiba membuat Hana berkedip cepat dan menelan kering.
“Hey? Inseong? Kenapa bertanya padaku?” bentak Hana tidak sabar, apa yang salah dengan Seungmi? Padahal dia bukan seorang pemula di dunia percintaan, kan?
“Aku hanya bertanya, kenapa membentakku?” gerutu Seungmi kesal.
“Kau sendiri, kenapa bertanya bagaimana perasaanmu pada orang lain? Aku bukan seorang cenayang yang tahu dia jodohmu atau bukan,” jawab Hana acuh tak acuh, detik berikutnya Hana menghela napas dalam begitu juga Seungmi mereka terdiam sampai Hana memekik kencang saat melihat jam dinding. “Heol! Kita harus mengerjakan tugas! Ini sudah malam!” Hana langsung menyerbu buku-buku yang berserakan di hadapan mereka.
“Ah, maaf. Tugas kita. Gara-gara aku.” sesal Seungmi.
“Tenanglah. Aku yang memancingmu untuk bercerita.  Hehe” tertawa ringan, Hana menepuk pundak Seungmi cukup keras.
“Kenapa di sini?” tanya Inseong datar pada Tn. Kim yang tengah duduk di ruang tamu, di depan Tn. Kim ada Chani dan Youngbin yang terduduk diam.
Tn. Kim tersenyum singkat. “Karena kita keluarga.”

~ Bersambung ~

Haiii Hooo!!!
Teman-teman, sedikit pemberitahuan; Cerita ini telah diupload oleh saya di Wattpad pribadi (bisa cek di tautan tersedia), alasan mengunggah ulang di blog ini adalah untuk semacam dokumentasi (?) entahlah, intinya seperti itu. 

Ke depannya saya akan mengupload di dua tempat (Wattpad dan Blogspot) silakan kunjungi Wattpad untuk menemukan lebih banyak cerita.
Terima Kasih.
Jangan lupa Like dan Komen!



Untuk Berinteraksi dengan saya, silakan kunjungi:

Selasa, 07 Juli 2020

Fanfiction [SF9] ー Around Farewell ¬ Chap. 09

Cast :
OC’s Shim Seungmi | SF9’s (Kim InseongBaek Zuho, Lee Dawon) | Slight OC’s & SF9’s Member

Genre:Romance | School Life | Hurt | Family

Genre:Budayakan Vote sebelum bacatinggalkan jejak dengan Komentarrespon, saran, maupun kritik. Author cuman minjem nama Cast, untuk cerita murni dari imajinasi Author. Bila ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulanJangan mengkopi sebagian atau kesuluruhan ceritaIntinya; Don’t Copy Story!

Happy Reading!


“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya inseong pada pria yang duduk di hadapannya. Saat ini mereka berada di kantin, dan tentunya pandangan siswa-siswi tertuju pada mereka. Pria dengan seragam sekolah yang berbeda dan rambut merah muda, sedikit aneh memang. Tapi ia masih terlihat tampan.
Pria itu sedikit menghela napas dan tersenyum di detik berikutnya. “Aku menepati janjiku” Serunya dengan mata yang berbinar. Inseong yang melihatnya sedikit geli dan terkikik karenanya. “Memangnya janji yang mana?” Tanya Inseong sembari berusaha menahan tawa. Inseong tak kuat lagi menahannya, menatap rambut pria di hadapannya dan senyuman lebar yang pria itu pasang membuat tawa Inseong semakin menjadi.
“Ish. Kurang ajar. Kau pura-pura lupa atau terkena amnesia?” Dengus Pria itu sembari mem-poutkan kedua pipinya. Inseong semakin terbahak. Detik berikutnya pria di hadapan Inseong terdiam tanpa senyuman, membuat tawa Inseong terhenti seketika.
“Tugasku selesai, kau sudah tertawa. Huft. Asal kau tahu mewarnai raambut seperti ini membuatku kena skors selama tiga hari” Dengus pria itu dan menyeruput jus jeruk yang sempat Inseong pesankan untuknya.
Inseong kembali tertawa. “Aku tidak tahu kau akan seimut itu, Lee Jaeyoon. Aku menyukainya. Kenapa kau tidak lakukan itu sejak dulu?” Inseong terkikik, bahkan di sudut matanya mulai mengeluarkan bulir bening. Pria di hadapannya; Lee Jaeyoon, begitu imut dan lucu, setidaknya itu yang Inseong lihat.
“Mudah bagimu berkata seperti itu. Tapi ini petaka bagiku” Rutuk Jaeyoon dan mengacak rambutnya yang berwarna merah muda itu. Inseong menarik napas, mencoba untuk behenti tertawa, karena ternyata tertawa membuatnya kelelahan. “Maafkan aku Jaeyoon-ah. Lagipula kenapa kau tidak pernah mengunjungiku? Kau membuatku sedih. Padahal aku merindukanmu” Raut wajah Inseong menjadi agak muram, membuat Jaeyoon kembali memasang senyum lebar yang memamerkan dimple pipinya dalam yang begitu manis dan itu berhasil membuat Inseong menarik kedua sudut bibirnya keatas.
Jaeyoon tersenyum puas melihat Inseong kembali tersenyum. “Aku juga merindukanmu.” Gumam Jaeyoon melirik Inseong.
“Tapi kau yang membuatku tidak bisa kesini! Kau membuat persyaratan yang terlalu berat! Aku bahkan merelakan diri untuk di skors! Ough! Asal kau tahu! Aku membuat keputusan yang sangat besar disini. Eomma bahkan membentakku dan menanyakan kewarasanku karena aku mewarnai rambutku seperti ini!” Jaeyoon meledak. Ia berbicara dengan nada yang tak santai dan cukup tinggi, ia menunjuk-nunjuk Inseong kemudian mengacak rambutnya frustasi. Sementara Inseong? Dia tersenyum tanpa memperdulikan tatapan siswa siswi yang mungkin mengartikan hal-hal aneh yang di luar batas normal.
“Kenapa? Kau sendiri yang membuat janji akan melakukan apapun untukku” Cibir Inseong dan mencubit pipi Jaeyoon. Senyum cerah tak lepas dari mulut Inseong membuat Jaeyoon mau tak mau ikut merasa senang dan tersenyum lebar.

“Ogu-Ogu. Pangeranku yang tampan, semakin tampan saat tersenyum” Seru Jaeyoon sembari memainkan kedua pipi Inseong. Sementara Inseong hanya menikmatinya dan tersenyum lebar. “Bukan Pangeran. Tapi Putera Mahkota” Koreksi Inseong sembari melepaskan tangan Jaeyoon. Membuat Jaeyoon sedikit menganga.
.
.
Bonus pict! 
Lee Jaeyoon with pink hair!

“Heol? Siapa yang mengganti nama panggilanmu?” Tanya Jaeyoon tidak terima, justru membuat senyuman Inseong semakin cerah. “Ada, seseorang. Yang aku sukai” Jawab Inseong sembari membayangkan tingkah Seungmi saat memanggilnya Putera Mahkota.
“Heol!” Seru Jaeyoon tak percaya. Pria dengan dimple saat tersenyum itu merasa sedikit kesal, ia bahkan harus mewarnai rambutnya untuk bisa bertemu dengan Inseong dan membuat sahabatnya yang satu itu kembali tersenyum. Lalu apa? Seseorang bahkan bisa membuat seorang Inseong tersenyum hanya dengan membayangkannya. Itu tidak adil.
“Kau juga harus mencari orang yang kau sukai dan kau akan tahu rasanya” Pamer Inseong dengan senyumannya. Jaeyoon menatap Inseong tajam. “Tapi aku menyukaimu” Ujarnya dengan nada serius membuat Inseong terdiam. “Eh?” Inseong kebingungan.
“Tapi bercanda! Ahahaha” Jaeyoon terbahak puas. “Dasar! Kau membuatku merinding!” Geram Inseong dan sedikit mengelus tukuknya. Nyatanya ia memang takut akan hal itu; bagaimana jika Jaeyoon benar-benar menyukainya? Maksudnya dalam artian- ough! Sudahlah. “Biarkan aku menginap di rumahmu” Ujar Jaeyoon mambuat Inseong membelakakan matanya. “Tidak bisa!” Tolak Inseong keras. “Eh? Kenapa?! Kau tidak mau menampungku?” Tanya Jaeyoon tidak terima.
Inseong tersenyum kikuk “Aku juga sedang ditampung orang. Aku kabur dari rumah” Jawabnya dengan nada malu, membuat Jaeyoon menggebrak meja cukup keras. “Apa?!”
“Zuho-ya?” Dawon mengerutkan dahinya saat ia melihat Zuho dengan rambut hitamnya, sementara yang punya rambut hanya melirik malas kearah Dawon. “Aku tidak salah lihat kan? Kau benar-benar Baek Zuho?” Tanya Dawon saat ia mendekati Zuho, detik berikutnya ia menjambak rambut hitam legam milik Zuho. “Woah! Ini asli!” Seru Dawon tidak percaya itu membuat Zuho mendecih kesal, “Sialan! Aku melakukannya karena aku sudah berjanji”.
“Janji?” Tanya Dawon ragu. “Ya, dan aku sedang berusaha untuk tidak memukulmu saat ini, jadi diamlah! Jangan banyak oceh!”
“Zuho?” Seungmi terdiam di dekat pintu melihat Zuho dan Dawon. “Kau, benar-benar Zuho?”Tanya Seungmi kembali untuk memastikan dan Dawon mengangguk pasti mewakili jawaban dari Zuho yang masih terdiam. “Kan? Sudah kubilang! Kau sangat berbeda. Ahaha. Aku jadi teringat saat pertama masuk SMP” Dawon tertawa mengenang kejadian sekitar 3 tahun yang lalu.
“Cih” Decih Zuho seolah dia meremehkan Dawon dan Seungmi, tapi nyatanya; Zuho ikut tenggelam dalam kenangan mereka bertiga dan rasa penyesalan mulai muncul di dadanya, andai Zuho yang terlalu bodoh itu tak pernah menyatakan perasaannya pada Seungmi, mungkin saat ini mereka masih bisa bersama tanpa harus saling menyakiti. Zuho mengangkat sudut bibirnya singkat. “Hal bodoh” Decihnya dan memillih berlalu, tanpa peduli dengan jam pelajaran, lagi pula ia sudah sering membolos.
“Dia kenapa?” Tanya Seungmi pada Dawon, sementara yang ditanya mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Kupikir kau lebih tahu” Jujur Dawon. “Hah? Maksudmu?” Seungmi sedikit kebingungan.
Dawon menghela napasnya pelan. “Kau yang membuat janji dengannya, tentu saja kau yang tahu pasti. Kan?” Jawab Dawon. “Ah, Janji.” Seru Seungmi kemudian rekah senyum menghiasi wajahnya.
“Aku senang dia memenuhi janjinya”

Sebagai permintaan maaf aku kasih Bonus pict! Lee Jaeyoon with pink hair!         

~ Bersambung ~

Haiii Hooo!!!
Teman-teman, sedikit pemberitahuan; Cerita ini telah diupload oleh saya di Wattpad pribadi (bisa cek di tautan tersedia), alasan mengunggah ulang di blog ini adalah untuk semacam dokumentasi (?) entahlah, intinya seperti itu. 

Ke depannya saya akan mengupload di dua tempat (Wattpad dan Blogspot) silakan kunjungi Wattpad untuk menemukan lebih banyak cerita.
Terima Kasih.
Jangan lupa Like dan Komen!



Untuk Berinteraksi dengan saya, silakan kunjungi:

Senin, 06 Juli 2020

Fanfiction [SF9] ー Around Farewell ¬ Chap. 08

Cast :
OC’s Shim Seungmi | SF9’s (Kim InseongBaek Zuho, Lee Dawon) | Slight OC’s & SF9’s Member

Genre:Romance | School Life | Hurt | Family

Author's Note:Budayakan Vote sebelum bacatinggalkan jejak dengan Komentarrespon, saran, maupun kritik. Author cuman minjem nama Cast, untuk cerita murni dari imajinasi Author. Bila ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulanJangan mengkopi sebagian atau kesuluruhan ceritaIntinya; Don’t Copy Story!

Happy Reading!


Inseong terdiam, ia baru sadar saat udara semakin mendingin dan hari semakin gelap. Ia menengadahkan kepalanya dan melihat sang bulan sudah menggantikan tugas sang matahari. Inseong menatap Ny. Shim yang masih sibuk melayani pelanggan yang datang ke kedai kecilnya itu dengan senyuman tipis. “Tujuanku terbelokkan.” Gumam Inseong masih setia duduk dan memperhatikan. “Kurasa aku akan menemui Seungmi besok pagi saja” Lanjutnya sembari berdiri dan membenarkan syal juga jaket yang ia pakai. Menghampiri Ny. Shim dengan senyuman.
“Maaf, Bu. Aku akan pulang.” Ujarnya lembut dan mengenggam kedua tangan Ny. Shim, memberikan dua kantung Hot Pack yang mungkin bisa sedikit menghangatkan. “Kenapa? Aku tidak perlu hal seperti ini. Ambil lagi. Tak baik anak muda sepertimu kedinginan hanya karena wanita tua sepertiku.” Ny. Shim sedikit mendorong tangan Inseong dan mencoba melepaskannya tanpa mengambil Hot Pack yang Inseong berikan.
“Tidak. Aku melakukannya karena aku punya lebih. Simpanlah oleh ibu. Aku akan pulang.”  Inseong melepaskan tangannya dan berhasil memberikan Hot Pack pada Ny. Shim.
“Sampai jumpa! Aku akan sering berkunjung!” Inseong melambaikan tangannya dan berbalik saat ia menaiki motornya dan sedikit berteriak berharap masih bisa tredengar oleh Ny. Shim. Inseong tersenyum lebar, ia mengenakan helm dan melaju dengan motornya.

.
.
.
.
.
.
.
.


“Baru pulang?” Tanya Chani yang asik menonton tv dengan penuh camilan di meja, tangan bahkan mulutnya. Ah, jangan lupakan beberapa botol jus jeruk yang sudah kosong. Inseong melirik agak jijik ke arah Chani. “Kau. Ough. Menjijikan. Bereskan bocah!” Tegas Inseong dan berlalu menuju kamar Youngbin.
Chani mencibir. “Bereskan Bocah!. Blah blah blah. Memangnya ini rumah siapa? Beruntung aku tidak mengusirnya” Chani kembali fokus pada tv dan camilannya tanpa memerdulikan teguran dari kakak sepupunya itu. “Aku ‘kan juga mau menikmati hidup layaknya orang kaya” Gumam Chani di detik berikutnya dengan raut wajah lusuh.
“Chani kenapa?” Tanya Youngbin  yang mendengar suara Inseong yang cukup tinggi. Inseong baru saja masuk dan menaruh tasnya, ia mengganti baju lalu melirik malas pada Youngbin yang sibuk memainkan Laptopnya ditemani beberapa camilan di kasur. Bayangkan saja. Hal itu membuat Inseong mengerutkan kedua alisnya kesal.
“Kakak dan adik sama saja. Kalian itu jorok! Ouh. Seharusnya aku pergi ke rumah Rowoon” Sesal Inseong. Memang penyesalan datang selalu terlambat. Mungkin akan lebih baik jika Inseong menginap di rumah Rowoon; salah satu adik sepupunya, dia tipe orang yang bersih tidak seperti Youngbin dan Chani.
Youngbin mendelik. Ia melemparkan beberapa cheese ball ke arah Inseong. “Sana pergi! Jika kau mau, aku akan menghubungi Rowoon sekarang.” Ujar Youngbin cepat dan meraih smartphonennya. “Yak! Jangan! Kau gila? Yang ada nanti malah pria tua itu yang menjemputku!” Bentak Inseong tak santai. Tentu, meskipun Rowoon salah satu adik sepupu yang baik tapi dia terlalu baik bahkan penurut. Dia selalu mengadukan apa saja yang ia anggap salah pada orang yang ia pikir bisa menyelesaikannya. Menyebalkan.
Youngbin tersenyum singkat. Ia menang. “Kalau begitu jangan mengomentari hidup kami, tuan. Disini, kamilah rajanya.” Ujar Youngbin penuh dengan nada kemenangan. “Baiklah. Terserah apa katamu” Pasrah Inseong.
“Inseong?” Tanya Seungmi tak percaya dengan siapa yang ia lihat di depan rumahnya. Inseong tersenyum singkat dan melambaikan tangannya. “Hai! Kau mau berangkat sekolah?” Tanya Inseong saat ia melihat setelan yang Seungmi pakai. Seungmi ikut memperhatikan pakaiannya kemudian mengangguk pelan.
“Dengan wajah seperti itu?” Tanya Inseong kurang yakin. “Kenapa?” Respon Seungmi sembari meraba wajahnya, ia rasa tak ada yang salah dengan itu. “Kau pucat. Kau yakin sudah sembuh? Lebih baik istirahatlah lebih lama” Ucap Inseong seketika membuat Seungmi membatu, telinga dan wajahnya memerah.
“Lihat. Kau masih sakit” Khawatir Inseong saat melihat wajah dan telinga Seungmi memerah tanpa tahu alasannya. “I-ini. karena udara dingin” Elak Seungmi sembari membenarkan syal dan kupluk yang ia gunakan. “Sungguh?” Tanya Inseong sedikit tak percaya. “Sungguh”.
“Paling tidak pakailah lip balm, agar bibirmu tidak terlalu pucat” Saran Inseong membuat Seungmi seketika memegangg bibirnya kaku. “Te-tentu.” Setujunya dan mengeluarkan sebuah lip balm lalu mengoleskannya pada bibir tanpa mengunakan cermin. Membuat Inseong sedikit terkikik. Inseong menarik tangan Seungmi. Menatap singkat bibir Seungmi kemudian mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. “Gunakan ini. kau malah terlihat berantakan” Ucap Inseong kemudian menyuruh Seungmi menatap kaca spion. Seungmi kembali membatu.
Tangan Inseong menyentuh bibirku. Mimpi apa aku semalam? Oh, ya tuhan. Aku tidak bisa bergerak. Kira-kira seperti itulah pikiran Seungmi saat mematung dan menatap Inseong. “Cepatlah. Dingin” Suruh Inseong sembari merapatkan jaket yang ia kenakan. “I-iya”
“Aku melihat Inseong oppa bersama seorang perempuan! Ahk! Tidakkk! Hatiku”  Jerit salah satu siswi di kantin, ia sedang berkumpul bersama beberapa temannya.
“Sungguh? Mungkin kau salah lihat! Jangan membuatku jantungan!” Rsepon yang lain sedikit berlebihan, ia bahkan memukul-mukul dadanya seolah ia sedang sakit sesak. Entahlah apa yang gadis itu pikirkan. Siswi SMA zaman sekarang memang menakutkan.
“Tidak! Tidak! Aku juga melihatnya! Sungguh! Oh tidak!” Balas yang lain sembari mengacak rambutnya tak terima. Oke, mereka mungkin salah satu pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa.
“Oh tidak!” Jerit yang lainnya.
“Sungguh. Aku juga melihatnya. Mereka berangkat bersama!” Tambah yang lainnya, membuat mereka yakin.
“Haruskah kita...” Ungkap siswi pertama yang berbicara namun terhenti. Karena mereka dihampiri seorang “Kim Inseong?”.
“Yap. Ini aku. Dan yang kalian lihat tadi pagi juga aku.”Ucap Inseong santai. Ia ikut duduk bersama lima siswi itu. “Wah, Heol! Daebak! Putera mahkota duduk bersama kita! Kyaaak!” Jerit mereka berlima membuat seisi kantin melirik sinis  ke arah mereka dan Inseong merasa kesal karenanya.
“Diam” Desis Inseong tak suka. Ia menatap mereka berlima secara bergantian. “Jangan berpikir untuk membully seseorang atas namaku. Aku tak mau namaku dijadikan alasan pembullyan.” Tegas Inseong kemudian berlalu setelah ia mengambil beberapa roti dan kotak susu.  Meninggalkan kelima siswi yang terpaku dengan mulut menganga.
“Apa itu sungguh Kim Inseong? Pangeran sekolah kita? Sungguh?”
“Wah, sangat tampan. Sungguh”
“Kita tak bermimpikan? Dia bicara. Dia bukan patung indah yang berjalan! Dia berbicara pada kita!”
“Kyaa! Aku sungguh bahagia!”
“Sungguh! Ini luar biasa!”
Oke, lupakan lima gadis yang mulai menggila itu.
Sekotak susu cokelat dan roti melon kini berada di meja Seungmi. Gadis itu menatap keduanya dengan bingung lalu menatap Inseong yang berdiri di hadapannya. “Kenapa?” Tanya seungmi pada Inseong sembari menunjuk dua barang yang memanggil Seungmi untuk segera ia makan.
Seungmi lapar, hanya saja ia tak mau selalu menerima apa saja yang Inseong berikan padanya. Ini sudah kali keberapa Inseong memberikan beberapa makanan dan minuman. Itu sedikit membuat Seungmi tidak nyaman, ditambah tatapan anak kelas yang tidak suka seorang gadis biasa seperti Seungmi diperhatikan oleh Inseong si pangeran sekolah.
“Karena aku menyukaimu.” Ungkap Inseong membuat seisi kelas tercengang. Dan menatap Seungmi dengan tatapan membunuh. Oke, bulu kuduk Seungmi bahkan berdiri.
“Karena kau temanku.” Tambah Inseong kemudian membuat seisi kelas menghela napas lega, entah itu pria ataupun wanita. Karena mereka punya alasan tersendiri dan tak mau Inseong dimiliki oleh gadis semacam Seungmi, entah itu mereka yang menyukai Inseong ataupun adik perempuan mereka yang menyukai pangeran sekolah itu.
Sementara Seungmi menunduk, ia merasa lega sekaligus kecewa. Teman. Ya, ia dan Inseong hanyalah teman sekelas, tidak lebih. “Terima kasih. Inseong-ah” Lirih Seungmi dan meminun susu kotak yang Inseong berikan.
“Cepat sembuh. Teman” Ucap Inseong entah kenapa terdengar keraguan dalam kalimat itu, membuat Seungmi kembali melihat ke arah Inseong. “Tentu”
Inseong kembali menuju kursinya.
“Seungmi?” Panggil Taeyang cukup keras, membuat Seungmi tersedak dengan roti yang ia makan. “Aah, kenapa?” Kesal Seungmi.
“Kemarin ada Tugas. Park Saem akan menunggu sampai besok. Acuannya dari buku paket.” Ujar Taeyang sembari menyerahkan beberapa lembar kertas pada Seungmi dan berlalu, menuju ke tempat Inseong.
“Kenapa Inseong tidak memberti tahuku?” Gumam Seungmi bingung sampai ia melihat Taeyang menjelaskan hal yang sama pada Inseong. “Dia juga tidak berangkat sekolah?” Tanya Seungmi pada dirinya sendiri.
“Dia sekolah kok”
“Ya Tuhan!” Seungmi hampir jatuh dari kursinya saat kepala Hana tiba-tiba muncul dan mengagetkannya. Seungmi mengusap dadanya pelan, bisa-bisa ia jantungan karena temannya yang hobi mengagetkan satu ini.
Setelah berhasil menenangkan diri Seungmi menatap Hana penasaran. “Lalu kenapa dia tidak mengerjakan tugas?” Tanya Seungmi menuntut penjelasan, tidak mungkin kan seorang Kim Inseong membolos. “Dia bolos.” Oh, ternyata perkiraan Seungmi salah.
“Kenapa?” Tanya Seungmi memastikan. “Kupikir dia menjengukmu. Apa dia tidak datang ke rumahmu?” Ucap Hana sedikit kebingungan, karena ia sangat yakin roman-romannya Inseong waktu itu akan menjenguk Seungmi tapi apa?.
“Zuho. Yang kemarin datang itu Zuho. Bukan Inseong, dia datang tadi pagi” Balas Seungmi membuat Hana sedikit kebingungan. “Sungguh?” Tanya Hana memastikan lagi. “Iya. Untuk apa aku berbohong” Jawab Seungmi malas.
“Kalian berbaikan. Kau menerimanya lagi?” Tanya Hana membuat mata Seungmi membulat tak percaya. “Tentu saja tidak! Jangan bicara senbarangan” Elak Seungmi cepat sedikit membuat Hana terperanjat kaget. “Sungguh? Lalu untuk apa dia ke rumahmu?” Tanya Hana antusias.
“Meminta maaf” Jawab Seungmi.
“Sungguh? Berandal sepertinya? Wah, kau luar biasa Shim Seungmi.” Ujar Hana dengan nada kagum. Seungmi melirik malas. “Jangan berlebihan. Kau seperti bocah yang dapat balon gratis” Cibir Seungmi dan memilih fokus pada kertas yang diberikan oleh Taeyang.
“Cih, kau sendiri seperti itu. Saat Inseong memberikan sesuatu padamu” Ejek Hana membuat Seungmi terdiam beberapa detik dan menyanggahnya mentah-mentah. “Tidak! Aku tidak seperti itu!” Elak Seungmi dan mendorong Hana untuk segera menjauh darinya.
Tapi Hana? Dia malah tersenyum, karena ia melihat rona merah di kedua pipi gembil milik Seungmi.
“Sungguh?”

~ Bersambung ~

Haiii Hooo!!!
Teman-teman, sedikit pemberitahuan; Cerita ini telah diupload oleh saya di Wattpad pribadi (bisa cek di tautan tersedia), alasan mengunggah ulang di blog ini adalah untuk semacam dokumentasi (?) entahlah, intinya seperti itu. 

Ke depannya saya akan mengupload di dua tempat (Wattpad dan Blogspot) silakan kunjungi Wattpad untuk menemukan lebih banyak cerita.
Terima Kasih.
Jangan lupa Like dan Komen!



Untuk Berinteraksi dengan saya, silakan kunjungi:

Minggu, 05 Juli 2020

Fanfiction [SF9] ー Around Farewell ¬ Chap. 07

Cast :
OC’s Shim Seungmi | SF9’s (Kim InseongBaek Zuho, Lee Dawon) | Slight OC’s & SF9’s Member

Genre:Romance | School Life | Hurt | Family

Author's Note:Budayakan Vote sebelum bacatinggalkan jejak dengan Komentarrespon, saran, maupun kritik. Author cuman minjem nama Cast, untuk cerita murni dari imajinasi Author. Bila ada kesamaan cerita mungkin hanya kebetulanJangan mengkopi sebagian atau kesuluruhan ceritaIntinya; Don’t Copy Story!

Happy Reading!

Seungmi terdiam menatap photo di layar smartphonenya. “Zuho-ya” Gumamnya disertai tetesan bulir bening dikedua matanya. Menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dan terisak di dalamnya adalah pilihan terbaik yang bisa Seungmi lakukan untuk menghilangkan kesedihannya. Berusaha meredam isak tangis agar tak terdengar oleh Seungjoon dan Dongsoo juga Ayah Ibunya tapi karenanya Seungmi harus kuat menahan sesak yang semakin menjadi saat ia mengeluarkan air mata, ingin rasanya Seungmi berteriak sejadinya tapi apa daya? Seungmi hanya bisa meringkuk di sini dengan dada yang semakin sesak.
Seungmi memukuli dadanya kasar. “Egois. Kau sangat Egois!” Rutuk Seungmi dengan tanpa henti membuatnya semakin sesak disetiap detiknya. Seungmi sehat, ia sama sekali tidak mempunyai masalah pernapasan tapi malam ini sangat sulit bagi Seungmi untuk bisa bernapas seperti biasa. “Hah, hah. Aku yang egois. Maafkan aku” Isak Seungmi berusaha meredam teriakannya dengan bantal guling yang mulai basah karena air matanya.
.
.
“Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan pada kalian tapi pertama kalian harus ke ruang BP terlebih dahulu” Tegas Inseong dan menarik kerah Zuho dan Dawon. Sekali lagi, jangan remehkan kekuatan seorang Kim Inseong.
.
.
“Saran dariku untuk kalian; sebentar lagi Ujian Akhir Semester 2. Bukankah sebaiknya kalian belajar? Jangan ganggu Seungmi lagi. Aku tahu kalian itu bodoh” Dengus Inseong meremehkan mengundang desisan dan geraman dari Zuho dan Dawon yang tidak terima dengan perkataan Inseong. Sang putera mahkota, bukankah itu panggilan dari Seungmi? Inseong mulai menyukai itu. Putera mahkota hanya berlalu tak mengacuhkan dua orang pecundang di belakangnya yang mulai mengumpat.
.
.
“Kau anak yang baik, ibumu pasti bangga” Binar Ny. Shim dengan senyuman khas yang biasa seorang ibu berikan pada anaknya membuat Inseong semakin terhanyut karenanya.
.
.

“Seungmi tidak berangkat?” Tanya Inseong pada Hana karena biasanya ia selalu melihat Seungmi bersama Hana, tapi tidak untuk saat ini. Hana menggeleng pelan. “Sejak kemarin dia sama sekali belum menghubungiku.” Balas Hana dengan raut khawatir takut terjadi sesuatu pada Seungmi dan Inseong hanya mengangguk lemas mendengar jawaban Hana. Sampai istirahat keduapun kabar Seungmi belum terdengar sama sekali membuat Inseong semakin khawatir.
“Aku akan bertanya pada Dawon” Tegas Inseong.
Inseong menemukan Dawon dengan mudah. Terima kasih pada kerumunan orang yang berkumpul melihat perkelahian Dawon dan Zuho. Inseong menghampiri mereka berdua dan menengahi. Beruntung Inseong tak menjadi pelampiasan lainnya, jangan remehkan seorang Inseong yang pernah mendapatkan medali emas dalam kejuaraan Hapkido.
“Berengsek! Jangan menghalangi!” Ancam Zuho dan melayangkan tinju pada Inseong namun berhasil ditangkis. Dawon yang melihat cela langsung melayangkan tinju lainnya pada Zuho membuat pria berambut merah itu terpukul kebelakang menghasilkan darah merah yang mulai menetes di sudut bibirnya. “Kau yang berengsek! Apa yang kau lakukan pada Seungmi? Dasar Bajingan! Kau hanya bisa menyakitinya saja! Berandal!” Segala macam sumpah serapah berhasil meluncur dari mulut Dawon dan iapun berniat untuk kembali melayangkan tinjunya tapi Inseong menahannya.
“Kalian berkelahi?” Tanya Kim Ssaem menatap tak percaya kearah Inseong, sementara yang ditatap menghela napas sedikit kesal dan mengangkat telunjuk yang mengarah pada Zuho dan Dawon. “Mereka yang berkelahi. Aku hanya melerai.” Jelas Inseong malas dan melipat kedua tangannya di dada. Ia kesal.
Kim Saem mengangguk semangat. Dan mencoba meraih tangan Inseong, hal itu membuat Inseong sangat tidak nyaman. “Tentu. Mana mungkin seorang putera mahkota sepertimu mengotori tangan hanya karena berandal kelas teri” Kim Saem menatap tajam kearah Zuho dan Dawon, sebaliknya mereka berdua malah sibuk mendesis satu-sama lain sepertinya persoalan mereka belum selesai.
“Kalian berdua! Duduk dan diam!” Bentak Kim saem. Zuho dan Dawonpun langsung terduduk, tak mau terkena semprot yang berlebihan dari Kim saem; si guru killer. Kim saem tersenyum kearah Inseong “Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang” Ucapnya dengan nada lembut sangat tak cocok dengan wajah berangas serta jenggot dan kumisnya itu. Inseong mengangguk pelan, tapi sebelum pergi ia menghampiri Dawon dan Zuho.
“Melihat kalian berkelahi seperti ini kurasa aku tak perlu bertanya kenapa Seungmi tidak masuk ‘kan?” Geram Inseong, ia tahu Seungmi pasti sedang sakit dan itu bukanlah sakit yang ringan. Zuho menatap tajam Inseong sementara Dawon menundukan kepalanya lemas, merasa gagal menjadi pelindung bagi Seungmi.
“Permisi”
“Iya? Ada apa pemuda tampan?” Balas Ny. Shim dengan senyum cerah saat ia mendapati seorang Kim Inseong yang berdiri di depan kedai kecil miliknya. Inseong terseyum tulus membalas senyuman Ny. Shim. “Bolehkah aku bertanya keadaan Seungmi? Aku teman sekelasnya” Tanya Inseong dengan nada sopan.
Cuaca hari ini cukup dingin, Inseong menyeruput sup hangat yang Ny. Seungmi berikan beberapa detik yang lalu dalam sebuah gelas instan.
“Ah, aku tidak tahu putriku mempunyai teman setampan dirimu nak.” Kagum Ny. Shim tak melepaskan pandangannya dari Inseong. “Keadaan Seungmi baik-baik saja. Tapi entah kenapa sejak kemarin sore dia mengunci diri di kamar. Aku khawatir dengan putriku yang satu itu” Gumam Ny. Shin dengan mata yang sedikit sayu. Ia terlalu sibuk untuk memperhatikan putri sulungnya, sampai-sampai putri sulungnya itu mengunci diri di kamarnya. “Aku orangtua yang buruk” Sesal Ny. Shim.
“Tidak. Anda bukan orangtua yang buruk. Anda bahkan bekerja sampai larut malam agar anak-anak Anda bisa sekolah dan makan enak. Akupun merasa kagum pada Anda” Ucap Inseong tegas, Ny. Shim di mata Inseong adalah sosok ibu yang hebat walau baru beberapa menit ia berbincang dengan Ibu kandungnya Seungmi itu. Dan tanpa Inseong sadari ia selalu mengumbar senyumnya saat bicara dengan Ny. Shim, mengingatkanya akan mendiang ibunya. Oh tidak, kenapa Inseong jadi melankolis? Inseong terisak dan sedikit menyeka titikan bulir bening yang menembus pertahanannya. “Cuacanya begitu dingin” Isak Inseong kembali mencoba menyembunyikan rasa harunya.
Seungmi memaksakan diri untuk keluar, padahal hari begitu dingin. Tapi harus, karena ia tak mau masalahnya dan Zuho berlarut-larut. Saat mendapat pesan singkat dari Zuho untuk bertemu di depan rumah Seungmi langsung bergegas memakai jaket dan syal serta penutup telinga. “Bergegaslah. Aku tak bisa berlama-lama” Tuntut Seungmi pada Zuho yang sedikit menggigil di samping motornya.
“Kau sendirian?” Tanya Zuho basa-basi justru mengundang tatapan tajam dari Seungmi. “Tentu. Ini masih terbilang pagi. Dongsoo dan Seungjoon sekolah. Eomma dan Appa..” Seungmi terdiam dan kembali melirik Zuho kesal. “..Kenapa aku harus menceritakannya padamu?” Dengus Seungmi kesal dan memilih untuk kembali ke dalam, musnah sudah harapannya agar bisa cepat berbaikan dengan Zuho.
“Tunggu” Cegah Zuho dan menarik tangan Seungmi pelan, ia tak mau menyakiti gadis satu ini lagi. “Apa?” Sergah Seungmi. Ia sudah tak kuat berada di luar, sejak kemarin malam ia belum makan dan malah mengunci diri di kamar ah tentu saja ia keluar saat ada panggilan alam baik itu urusan kecil maupun besar. Baiklah Seungmi yang salah. Gadis berambut hitam itu menghela napas dalam.
“Maafkan aku” Ucap Zuho lirih. “Aku tahu, selama ini aku terlalu kasar padamu. Jadi. Sungguh. Aku minta maaf. Tak bisakah kau tetap menjadi Seungmi yang aku kenal?” Tambah Zuho agak cepat, yang seperti ini tidak sesuai dengan sifat Zuho tapi seorang Baek Zuho mampu melakukan apapun agar Shim Seungmi tidak memusuhinya lagi-setidaknya menurut Zuho begitu-.
Seungmi terdiam beberapa detik, ia merasakan ketulusan. Sungguh belum pernah ia mendengar Zuho berbicara seperti ini bahkan nada bicaranyapun terdengar lembut. Seungmi tersenyum singkat. “Aku memaafkanmu. Tapi aku tidak bisa menjanjikan aku yang kau kenal. Karena pada dasarnya manusia itu berubah seiring berjalannya waktu.” Lirih Seungmi, tanpa sadar ia meneteskan bulir bening di sudut matanya. “Kita bisa menjadi teman. Jika kau tidak keberatan. Jangan berkelahi lagi dengan Dawon juga Inseong. Entah kenapa aku punya firasat kau melayangkan tinjumu padanya” Gumam Seungmi membuat Zuho sedikit terpaku, bagaimana bisa Seungmi tahu? Padahal tadi dia tidak sekolah dan tidak mungkin Dawon mengadu apalagi Inseong, pangeran sekolah satu itu bahkan tidak tahu alamat Seungmi ‘kan? Setidaknya itu yang diyakini seorang Baek Zuho.
“Terima kasih. Aku senang mendengarnya” Jawab Zuho dengan senyuman tipis. “Seperti halnya dirimu. Aku tak bisa menjanjikan untuk poin terakhir. Asal kau tahu, manusia tidak bisa berubah semudah itu” Tegas Zuho dan menghela napas dalam. “Baiklah. Aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan beberapa bulan lalu saat berpisah denganmu. Sekali lagi, maaf. Juga terima kasih” Zuho berbalik tanpa melihat reaksi seungmi di belakangnya, ia tak mau melihat gadis yang pernah ia cintai dan sayangi mengalami sakit lebih dari ini. Gadis itu pantas mendapatkan yang lebih baik.
Seungmi terpaku melihat Zuho melesat dengan motornya. Ia tak pernah tahu jika Zuho bisa melankolis seperti itu bahkan selembut ini. Dulu ia hanyalah berandalan egois yang kasar, kenapa semuanya terlihat lebih indah saat Zuho bukan lagi miliknya? Seungmi menghela napas dalam dan lega. “Setidaknya kali ini kami berpisah baik-baik” Gumam Seungmi dan melangkah ke dalam rumah. “Terima kasih. Cinta pertamaku”

~ Bersambung ~

Haiii Hooo!!!
Teman-teman, sedikit pemberitahuan; Cerita ini telah diupload oleh saya di Wattpad pribadi (bisa cek di tautan tersedia), alasan mengunggah ulang di blog ini adalah untuk semacam dokumentasi (?) entahlah, intinya seperti itu. 

Ke depannya saya akan mengupload di dua tempat (Wattpad dan Blogspot) silakan kunjungi Wattpad untuk menemukan lebih banyak cerita.
Terima Kasih.
Jangan lupa Like dan Komen!



Untuk Berinteraksi dengan saya, silakan kunjungi:

Fanfiction [SF9] ー Around Farewell ¬ Chap. 10

Cast : OC’s Shim  Seungmi  |  SF9 ’s (Kim  Inseong ,  Baek   Zuho , Lee  Dawon ) | Slight OC’s &  SF9 ’s Member Genre: Romance ...